Archive for the ‘Kapitalis’ Category

Seputar Pemilihan Kabinet 2009: Banyak Drama Minim Substansi

October 29, 2009

Oleh: Didiet Budi Adiputro

(Ketua Umum KSM 2006 – 2008)

Minggu- minggu terakhir di bulan oktober sepertinya nuansa drama ala reality show menjadi suatu hal yang sering kita lihat. Memang di beberapa stasiun TV , reality show selalu mendapat tempat istimewa di prime time, tapi gejala ini juga melanda di setiap acara berita beberapa waktu belakangan. Loh? Apakah sekarang semua berita juga mengejar rating dengan menampilkan reality show? Jawabannya tentu tidak. Kali ini hadir reality show politik dengan pemain yang bukan lagi Anjasmara, Choky Sitohang atau Limbad. Tapi Presiden SBY dan segenap elit politik di negeri ini.

Hebatnya reality show bisa membuat penonton penasaran, berdebar-debar, penuh spekulasi, sedih bahkan kesal. Jadi emosi penonton dimainkan sedimikan rupa dengan bungkusan acaranya yang menegangkan.  Nah, ilustrasi ala reality show tampaknya dipraktekkan oleh para elit kita selama dua minggu terakhir. Masyarakat dibiarkan berspekulasi ketika bursa calon menteri beredar dan berganti-ganti terus setiap harinya di berita TV ataupun koran.

Hal ini tentu saja membuat orang yang namanya disebut-sebut juga ikut tegang harap-harap cemas. Efek dari berita ini dikabarkan beberapa calon menteri yang disebut melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak lazim di hari biasa. Ada yang mengadakan pengajian zikir dadakan selama beberapa hari terakhir, ada juga yang mengintensifkan lobi, sampai memanfaatkan opsi terakhir yaitu ke ’guru spiritual’. Entah benar atau tidak, tapi media jugalah yang menyebarkan berita ini.

Drama berlanjut sampai akhirnya Presiden  membuka audisi ’Cikeas Idol’. Dimana Presiden SBY akan memanggil, mewawancara, serta melakukan fit and proper test bagi calon menteri. Nah, saat itulah spekulasi masyarakat mulai menurun karena satu demi satu calon menteri datang untuk bertemu Presiden dan Wakil Presiden terpilih, yang setelah itu kebanyakan dari mereka memberikan keterangan ke media.

Lalu timbul pertanyaan, kenapa Presiden perlu melakukan wawancara serta mengadakan tes untuk mengukur kemampuan si calon menteri? Apakah presiden tidak yakin dengan kapasitas si calon sebelum dipanggil ke Cikeas? Dalam sebuah perbincangan saya dengan salah satu tokoh senior yang pernah menjadi penasehat utama mantan Presiden RI, saya menanyakan hal ini. Menurut sang tokoh sebenarnya Presiden dengan kekuatan dan informasi yang dia punya seharusnya bisa langsung tahu mana menteri yang bagus tanpa harus melakukan tes wawancara terlebih dulu. ”Kalau Presiden SBY gaul dan nggak kuper dia tahu mana orang yang bagus mana yang jelek, tanpa harus wawancara. Mungkin saja Presiden kita ini minder dan kurang gaul”, katanya.

Gosip Lebih Seru ,Tapi Etika Dilanggar

Jadi ajang fit and proper test ala Cikeas ini saya anggap tak ubahnya seperti bagian dari reality show. Namun seperti halnya drama reality show yang banyak adegan bumbu tapi minim substansi, nampaknya juga terjadi dalam peristiwa politik belakangan ini. Bahkan ’Cikeas Idol’ sudah memakan korban yaitu Prof.Dr.dr. Nila Djuwita Moeloek. Istri mantan Menkes Prof.Farid A Moeloek yang dalam pengumuman kabinet oleh Presiden, ternyata namanya tidak masuk dalam jajaran pembantu presiden. Padahal Nila sudah mengikuti berbagai tes yang dilakukan mulai dari wawancara di Cikeas sampai tes kesehatan di RSPAD. Yang disesalkan dikemudian hari, Presiden SBY malah mengatakan alasan bahwa Nila gagal karena tidak lulus salah satu tes. Bayangkan saja bagaimana perasaan ahli mata ini mendengar alasan Presiden, apalagi karangan bunga dan ucapan selamat terlanjur silih berganti berdatangan. Drama ini telah  mamakan korban pertama yang dikhawatirkan akan menurunkan harga diri dan reputasi Guru Besar fakultas Kedokteran UI ini .

Pembahasan kabinet tidak jauh mendalam selain sedikit cibiran mengenai posisi Hatta Rajasa seorang politisi kepercayaan Presiden SBY yang duduk sebagai menko perekonomian, lalu Purnomo Yusgiantoro yang dijuluki menteri terlama era reformasi karena kembali duduk di posisi Menhan, juga kenyataan bahwa Presiden SBY lebih banyak mengakomodir orang partai dibanding kalangan profesional di kabinetnya. Selebihnya perdebatan lebih minim secara substansi.

Justru yang mencuat di permukaan adalah gosip seputar serangan terakhir mantan Menkes Siti Fadilah Supari sebelum dia lengser kepada penggantinya Dr.dr. Endang Rahayu Sedyaningsih. Tak ubahnya seperti pereraian selebritis , perang statementpun tak terelakan. Siti mencibir Endang yang dianggap kurang pantas jadi menkes karena baru berada di posisi eselon dua, selain itu berbagai tuduhan miring juga dilancarkan ahli jantung ini yang menuduh Endang pernah dihukum karena ketahuan ingin menjual virus H5N1 ke luar negeri. Endang juga dituduh sebagai antek AS karena pernah meneliti di laboratorium Namru 2 yang selama ini dihebohkan Siti fadilah.

Endang yang merasa dituduh macam-macam oleh Siti mencoba menyangkal tudingan tendensius itu dengan santai. Doktor public health dari Harvard itupun dibela oleh beberapa dokter senior antara lain mantan Ketua IDI Prof. Kartono Mohamad. Menurut Kartono, keterlibatan Endang hanya terbatas pada posisinya sebagai peneliti semata dan tidak pernah bekerja di Namru “Kami tahu benar mengenai bu Endang ini,” kata Kartono seperti dikutip di salah satu media online. Fadilah juga jangan lupa bahwa ketika dia diangkat menjadi Menkes justru pangkatnya baru berada di eselon empat, jauh di bawah posisi Endang sekarang.

Siti Fadilah memang dikenal sebagai menteri yang kerap kali melontarkan pernyataan kontroversial. Misalnya tuduhannya kepada Namru 2 sebagai agen mata – mata, dimana dia mengaku sebagai menkes tidak mengetahui apa bentuk kegiatan laboratorium kesehatan milik angkatan laut AS ini. Padahal menurut laporan resmi Kedubes AS, tiap triwulan sekali Namru selalu melaporkan hasil kegiatannya ke Menkes untuk ditandatangani. Semua kegiatan penelitian Namrupun harus seijin dari Litbangkes Depkes , serta melibatkan banyak peneliti dan mahasiswa Indonesia. Jadi bagaimana menkes tidak tahu kegiatan Namru, padahal dia selama ini menandatangani semua laporan kegiatan Namru. Mungkin ini jadi kebiasaan buruk dari tokoh kita yang suka bicara populis anti asing  tapi pernyataan yang keluar acap kali mengandung kebohongan publik.
Memang peristiwa akhir-akhir ini banyak yang tidak sesuai ekspektasi kita, karena kabinet profesional yang diharapkan tidak sepenuhnya bisa teralisasi karena memang realitas politik berkata lain. Tapi kedepan rakyatlah yang dapat menilai, mana menteri yang banyak bekerja atau banyak bicara.

Seperti kata Imanuel Kant, bahwa manusia mampu memilih dan tumbuh. Dalam proses itulah berlangsung pembelajaran yang membuat seseorang menjadi dewasa dan matang.  Drama tetaplah drama, indah tapi tetap terlihat hampa. Mungkin inilah salah satu chapter dari pembalajaran bagi demokrasi kita untuk menjadi lebih ideal.

Pilih Presiden 2009!

June 15, 2009

Oleh: Putry Nurhaeni, HI Universitas Nasional 2007

Pesta Demokrasi di Indonesia terus berlanjut untuk Pilpres 2009 yang akan berlangsung pada tanggal 5 Juli 2009. Pemilu presiden pastilah sudah sangat ditunggu- tunggu, karena pada akhirnya, setelah memilih calon legislative pada pemilu april lalu, kali ini kita akan memilih langsung calon pemimpin kita. Sudah kita ketahui bersama bahwa ada 3 pasangan Capres dan Cawapres yang maju untuk menduduki kursi Presiden dan wakil Presiden pada Pemilu 2009 kali ini. Pasangan tersebut adalah ( berdasarkan nomor urut ) 1. Pasangan Megawati – Prabowo 2. Pasangan SBY – Boediono 3. Pasangan Jusuf Kalla ( JK ) – Wiranto. Setiap pasangan Capres dan cawapres kini sedang menggalang kekuatan agar nantinya bisa benar-benar mencuri perhatian masyarakat dan mendulang suara terbanyak pada Pilpres 2009 nanti.

(more…)

Seputar Selasar

June 15, 2009

Oleh: Novita Indra P., HI Universitas Nasional 2007

Kalau kita lihat Universitas Nasional (UNAS) akhir-akhir ini terlihat kurang nyaman karena adanya pembangunan yang menutup akses jalan antar blok dan menjadi kesulitan tersendiri untuk masuk ke dalam kelas karena harus memutar melewati jalur belakang dan untuk melewati blok 3 juga harus lewat akses jalan masuk yang melewati kantin. Dan kalau kita melewati bagian belakang dari lapangan sepak bola maka akan kita dapati  bangunan baru bertingkat yang bentuknya seperti kamar kost. Sebenarnya apa saja yang ingin dibangun di kampus UNAS? Lalu sampai kapan pembangunan ini dapat diselesaikan? Dan gedung baru yang ada di belakang blok 4 akan dipergunakan untuk apa ya?

(more…)

Berdemokrasi di Universitas Nasional

February 1, 2009

Oleh: Fritz Jojong, HI Universitas Nasional 2006

Universitas Nasional merupakan salah satu kampus tertua di Indonesia. Kampus yang lahir 1949 ini boleh dikatakan sebagai agen intelektual muda yang menjajikan bagi bertumbuh dan berkembangnya  pribadi yang cerdas dan bermoral, sehingga tidak heran bahwa setiap tahunnya kampus perjuangan ini selalu didatangi dan dikerumuni calon intelektual hampir dari semua wilayah di Indonesia.

Kalau Anda menyempatkan diri ke UNAS Anda pasti akan bisa melihat dan bertemu dengan orang jawa, Sumatra, Kalimantan, Ambon, Flores dll. Keberagaman itulah yang menempatkan UNAS sebagai Universitas Nasionalis dan plural.

Tentunya ini tidak terlepas dari kinerja dan produk yang telah dihasilkan UNAS. Sangat pantas dan wajar bahwa  masyarakat Indonesia memberikan apresiasi dengan mengutus tunas-tunas mudanya untuk berpatisipasi aktif atau ambil  bagian dalam karya intektual dan karya moral UNAS.      Tetapi masih ingatkah anda peristiwa UNAS berdarah di akhir Mei lalu yang sempat menggerkan bumi pertiwi ini? Atau masih ingatkah anda tentang MUSMA FISIP pada bulan November dengan terpilihnya Flavy dan Tua sebagai ketua senat dan wakil ketua senat periode 2008-2009.

(more…)

Golongan Putih, Apakah Haram?

January 24, 2009

Oleh: Hanifah Mutya, HI Universitas Nasional 2007

Pemilu 2009 sudah di depan mata. Saatnya kembali bagi masyarakat Indonesia untuk memilih langsung pemimpinnya untuk masa yang akan datang. Apakah pemimpin tersebut akan membawa kesejahteraan atau malah semakin membawa keterpurukan, semuanya pilihan ada di tangan rakyat yang memilih.

Namun melihat calon-calon pemimpin yang akan maju pada pemilu 2009 nanti, besar kemungkinan akan semakin tinggi terjadi golput (golongan putih). Menilik dari hal itu, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengusulkan agar MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa haram bagi mereka yang golongan putih (golput). Usaha ini juga didukung oleh Bawaslu (Badan Pegawas Pemilu), yang menyatakan bahwa upaya ini dapat mensukseskan pemilu, karena masyarakat saat ini bersikap apatis terhadap pemilu yang akan datang.

(more…)