Ahmadinejad: Tangan Terkepal di Hadapan Paman Sam

Oleh: Belati Putra, HI Universitas Nasional 2006

“Perang kita sesungguhnya belum lagi dimulai. Bahkan seandainya amunisi kita telah habis, kita tetap akan membela tanah air dan revolusi kita dengan kuku-kuku dan gigi-gigi kita!” (Ahmadinejad, Hamsyari 15 februari 2005).

Revolusi Islam Iran tahun 1979 yang dipelopori oleh Imam Khomeini menjadi tonggak sejarah bagi bangsa Iran. Konspirasi Amerika featuring CIA yang berhasil menggulingkan rezim Moshaddeq yang tidak loyal kepada Amerika, dan menggantinya dengan menunjuk Syah Reza Pahlevi sebagai orang nomor satu sekaligus boneka rekayasanya melahirkan sebuah revolusi yag bernuansa konservatif dengan prinsip Islam sebagai landasan utamanya. Seiring berjalan, revolusi inipun kerap melenceng dari pemikiran awalnya yang telah digariskan oleh Imam Khomeini. Sampai lahir sesosok figur yang sangat konservatif, yang menjadi satu-satunya jawaban untuk segala ulah Amerika beserta antek-anteknya terhadap Iran, Mahmoud Ahmadinejad.

Kecaman Amerika dan kroni-kroni-nya atas nuklir yang dikembangkan Iran tidak membuat Nejad gentar sambil meyakinkan dunia bahwa nuklir Iran dimaksudkan untuk tujuan damai dan kemajuan bangsa Iran, bukan untuk dikembangkan menjadi senjata pemusnah massal seperti yang digembar-gemborkan Amerika kepada masyarakat dunia. Menurut Ahmadinejad, nuklir adalah teknologi prestisius yang dapat membawa bangsa Iran melesat menjadi bangsa yang maju, karena apabila Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir nya tersebut berkembang, maka anggaran subsidi listrik nasional dapat dikurangi secara drastis yang berarti dalam jangka panjang Iran akan menjadi Negara yang mandiri disemua bidang. Dan dalam jangka pendeknya, devisa Negara yang sangat besar akan masuk ke dalam kas Negara Iran seiring meningkatnya harga gas dan minyak dunia, dan itu berarti kemakmuran akan segera datang menghampiri bangsa Iran.

Salah satu alasan di ataslah yang membuat Ahmadinejad (Iran) menolak segala bentuk usaha-usaha perundingan damai yang ditawarkan oleh negara-negara eropa (seperti Perancis, Inggris dan Jerman), yang pada intinya tetap menuntut Iran untuk menghentikan Program pengembangan nuklirnya. Dan seperti layaknya sebuah sinetron, Amerika selalu menyutradarai ketiga pemeran utama atas opsi damai dari pihak eropa tersebut. Begitu pula Israel (yang notabene juga sudah mengebangkan nuklir sejak 1952), juga turut ambil bagian dalam setiap usaha menjegal nuklir Iran. Dan kesemuanya hanya dijawab dengan gelengan jari telunjuk yang teracung dari Ahmadinejad, No Way !Sejarah Nuklir Iran.

Dekade ’60-an merupakan awal dari masa perintisan nuklir bagi negara-negara Arab, termasuk Iran. Dan dengan usaha-usaha penekanan serta intrik yang dilancarkan Amerika menjadi kendala utama terhentinya sebagian besar usaha-usaha yang dilakukan negara-negara Arab tersebut, terkecuali Iran. Pada awalnya, Amerika dan Jerman berniat membantu Iran untuk membangun instalasi nuklir. Namun propaganda tarik-ulur yang berkepanjangan antara Jerman-Iran berujung jalan buntu untuk langkah awal bagi proses pengembangan nuklir Iran tersebut.

Selang tujuh tahun kemudian (tepatnya Juni 1967), kota Teheran dipilih Iran untuk mendirikan Pusat Riset Nuklir dengan reaktornya yang berskala 5 megawatt yang digunakan sebagai acuan dasar untuk menuju angka yang lebih besar, yaitu 20.000 megawatt. Namun pergolakan politik pada 1979 membuat semuanya stagnant. Ongkos kerjasama dengan perusahaan Siemens (asal Jerman) sejumlah 6 miliar dolar lenyap begitu saja. Dan sekali lagi, nama Amerika dibantu Israel yang berperan sebagai tokoh antagonis kembali berperan di balik semua skenario tersebut.

Namun Rusia dan Cina seakan menjadi “Messiah” bagi program tersebut pada tahun 1990 yang dengan sukarela bersedia membantu agar riset tersebut kembali dimulai, bersamaan dengan dikirimkannya beberapa bantuan teknis oleh Rusia untuk pendirian fasilitas reaktor nuklir tersebut. Dan pada tahun berikutnya, 1.800 gram yang terdiri dari beberapa jenis uranium asal Cina dikirimkan oleh negara “Tirai Bambu” tersebut ke Teheran guna dipakai sebagai proses pengayaan bahan nuklir.

Tahun 1995, diadakan pertemuan Rusia-Iran untuk memantapkan kesepakatan akhir mengenai proses penyempurnaan pembangunan reaktor nuklir Iran, yang pada saat itu telah mampu menghasilkan produksi energi nuklir 1.000 megawatt yang akan terus ditingkatkan sampai menuju ke angka 6.000 megawatt dengan perkiraan selesai pada 2020 dan dengan puncaknya 23.000 megawatt, yang merupakan jumlah fantastis yang diharapkan dapat menutupi pasokan listrik Iran setiap tahunnya.

Hingga 2002 yang lalu, program tersebut masih terus dilanjutkan di bawah pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Amerika semakin “gerah” melihat perkembangan nuklir Iran tersebut dan puncaknya benar-benar terjadi pada saat Iran berhasil menemukan uranium dibeberapa tambangnya yang berada di wilayah Yadz, yang menjadi titik terang untuk cita-cita Iran dibidang nuklirnya. Langkah-langkah penting Iran tersebut sebenarnya ditentukan oleh teknologi pemisahan dan pengayaan uranium yang dimiliki Iran, yang mampu melakukan penyempurnaan fuel cycle nuklir secara laborat melalui 164 perangkat sentrifugal, yang mampu menghasilkan uranium hingga level 3.5 % (level minimum untuk 1 tegangan listrik). Produksi 235 uranium tersentrifugasi level 9% (yang cukup untu membuat sebuah senjata / bom nuklir) sedang coba dilewati Iran yang kini memiliki 3 rantai perangkat sentrifugal yang setiap rantainya terdiri dari 164 perangkat tipe B1, dengan rencana bahwa beberapa tahun mendatang Iran dapat menghasilkan lebih dari 50.000 perangkat sentrifugal.

Selain itu Iran juga telah memiliki 110 ton uranium fluoroid level ke 6, yaitu bahan mentah bagi uranium yang dikembangkan untuk selanjutnya dituangkan ke dalam perangkat sentrifugal, untuk memisahkan gas dari uranium hingga dihasilkan uranium dengan level 3,5%. Melalui proses sentrifugasi dengan menggunakan 235 uranium hingga level 9% ke atas, diperolehlah suatu bentuk logam inti dari proses pembuatan bom nuklir. Itu berarti, Iran hanya butuh sekitar 25kg bahan logam tersebut untuk membuat “korek api” yang dinyalakan Amerika di Hiroshima, Jepang, pada Perang Dunia II 1945. Dengan demikian , dalam kondisi sesulit apapun, paling tidak Iran hanya membutuhkan waktu 5 tahun untuk membuat satu bom nuklir, dan paling cepatnya 2 tahun (dengan fakta absolut bahwa Iran harus sudah benar-benar melengkapi segala kebutuhan dan fasilitas pabrik pengayaan uraniumnya).

Nah, yang kini menjadi pertanyaan mendasar adalah, apakah Iran benar-benar ingin memproduksi dan memiliki senjata yang benar-benar mematikan tersebut ? Kita tunggu saja kebenaran kalimat-kalimat yang dilontarkan Nejad tentang nuklir Iran yang dimaksudkan untuk tujuan damai, sekaligus menjadi pemirsa untuk sinetron dengan episode-episode penuh konspirasi yang diperankan oleh Amerika beserta ‘handai-taulan’nya yang lain.

Dan untuk mengakhiri tulisan ini, penulis mencoba mengutip pernyataan Ahmadinejad yang cukup menyulut api semangat rakyat Iran untuk bangkit dari keterpurukan, “Perang kita sesungguhnya belum lagi dimulai. Bahkan seandainya amunisi kita telah habis, kita tetap akan membela tanah air dan revolusi kita dengan kuku-kuku dan gigi-gigi kita!” (Ahmadinejad, Hamsyari 15 februari 2005).

Tags: , ,

3 Responses to “Ahmadinejad: Tangan Terkepal di Hadapan Paman Sam”

  1. anton Says:

    wah berita bagus tuh !!!!
    terus di up to date aja yaaaa!
    salam kenal aja tuk yang punya blog

  2. iky Says:

    mantab,.saya lagi bahas skripsi mengenai iran,.apa ada rujukan atau2 bahan2 yang bermanfaat yang terkait dengan nuklir iran?

  3. Iran Military Forces - Page 20 - KompasForum Says:

    […] at 5:20 pm and is filed under Kapitalis. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: