Perubahan Iklim

Oleh : Andra Destaraji, Ilmu Politik Universitas Nasional 2005

Al Gore Minta Agar Semua Pihak Maju Tanpa As

Mantan wakil Presiden Amerika Serikat, yang juga peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2007 ini,merekomendasikan agar COP-13/UNFCCC melangkah maju tanpa perlu memerhatikan tiadanya komitmen dari Amerika Serikat. Al Gore yakin, pada waktu mendatang akan ada perubahan sikap Amerika serikat dalam isu perbahan iklim. UNFCCC adalah juga sebutan bagi konferensi PBB tentang Perubahan iklim, yang baru usai diselenggarakan di Jimbaran, Bali. COP-13 merupakan julukan bagi konvensi para pihak ke-13 PBB untuk Perubahan Iklim.

Meskipun tidak melihat perubahan sikap AS soal perubahan iklim, Al Gore melihat kemajuan atas sejumlah isu, termasuk hubungan antara Negara berkembang dengan Negara maju. Tidak dicapainya kesepakatan soal target dan jadwal mengenai beberapa isu tidak menghilangkan adanya unsur kemajuan yang dicapai dalam konferensi. Dalam pertemuannya dengan Presiden Yudhoyono, Al Gore mengatakan telah terjadi pembicaraan atas sejumlah isu dalam suasana yang nyaman dan produktif.

Al Gore memberi apresiasi atas pentelenggaraan COP-13/UNFCCC yang dihadiri berbagai Negara. Al Gore menyampaikan selamat atas inisiatif Indonesia menjaga kelestarian alam. Pihak AS sendiri pada umumnya bersikap enggan dan bahkan bias dikatakan menolak secara halus soal penceghan pemanasan global. AS, misalnya, tidak bersedia meratifikasi Protokol Kyoto, yang isinya memerintahkan pengurangan emisi gas.

AS Ikuti Kesepakatan Baru

Peta jalan Bali banyak mendapatkan dukungan. Keopastian keikutsertaan AS dalam kesepakatan Internasional baru itu disampaikan oleh Senator dari Partai Demokrat, John F Kerry seusai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di four season Resort, Bali. Pertemuan sekitar 30 menit ini mengawali sepekan kegiatan Presiden di Bali dalam rangka Koferansi para pihak ke-13 dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (COP/UNFCCC) di Bali.

Kerry menjelaskan lebihlanjut, dunia harus mengetahui bahwa AS telah berubah saat ini. Banyak hal positif yang telah terjadi di badan legislatif AS dalam mengurangi emisi karbon dan mengambil langkah positif untuk menghadapi perubahan iklim. “Saya kira, dua tahun ke depan, kita (UNFCCC) akan menghasilkan suatu kesepakatan dan saya kira AS akan menjadi bagian di dalamnya.” Kata Kerry.(KOMPAS 10/12). Dalam pertemuan dengan Kerry, Presiden Yudhoyono menghimbau Pemerintah AS dapat menjadi bagian dari kesepakatan baru tentang perubahan iklim yang digagas di Bali untuk menggantikan Protokol Kyoto. Selain isu lingkungan, dalam pertemuan itu juga dibahas mengenai hubungan kedua Negara atas dasar persamaan kepentingan.

Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda seusai pertemuan mengatakan, AS akan lebih maju melangkah dalm isu perubahan iklim jika Presiden berikutnya yang menggantikan George W Bush berasal dari Partai Demokrat. Selama ini Partai Demokrat dikenal lebih dekat dengan isu-isu lingkungan. Di dalam ruang konferensi, sehari menjelang berakhirnya pertemuan pejabat tinggi (SOM), beberapa persoalan mulai mengerucut. Sejumlah rancangan kesepakatan siap diajukan dalam pertemuan tingkat menteri.

Dalam pembahasan mengenai konferensi perubahan iklim di Bali, dalam tulisan ini sedikit akan saya paparkan mengenai beberapa kasus yang terjadi. Yang tentunya masih berkaitan seputar COP-13/UNFCCC di Bali. Salah satunya adalah :

Alih Teknologi, “Jantung” Kemajuan Perundingan

NUSA DUA, KOMPAS- Masalah alih teknologi harus benar-benar bias diselesaikan pada Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim di Nusa Dua, Bali, karena masalah itulah yang akan jadi penggerak majunya dialog tentang skema baru pasca berakhirnya Protokol Kyoto, tahun 2012 mendatang. Hal itu ditegaskan Kathrin Gutman dari World Wildlife Fund for Nature (WWF) dan Red constantiano dari Greenpeace Internasional. Hal senada juga banyak disampaikan aktivis lingkungan lainnya, termasuk Presiden Konferensi di Bali yang juga Menteri Negara Lingkungan Hidup Indonesia Rachmat Witoelar.

Banyak pihak sepakat, Negara-negara berkembang yang diwadahi dalam G-77 sebenarnya sudah menyampaikan tawaran yang sangat maju, yaitu kesediaan mereka untuk mengurangi tingkat emisinya guna membantu turunnya emisi karbon dioksida (CO2) global. Akan tetapi, untuk teknologi ramah lingkungan serta dukungan pendanaan untuk teknologi bersih yang tidak murah tersebut. Sayangnya, seperti diakui Wakil Ketua delegasi RI Masnellyarti Hilman, masalah alih teknologi masih terus didiskusikan.

Ketua delegasi RI Emil Salim sebelumnya menyampaikan, masalah utama dalam masalah alih teknologi adalah uang. Konkretnya, Negara-negara maju terpaksa harus mengeluarkan untuk laih teknologi itu. Beberapa aktivis lembaga non pemerintah mengkhawatirkan mandeknya pembahasan mengenai alih teknologi ramah lingkunagn dan pendanaannya ini. Dikhawatirkan, kondisi ini akan dimanfaatkan kelompok-kelompok penyandang dana untuk memberikan dana pinjaman terlebih dahulu, sementara proses perundingan terus berjalan. Beberapa lembaga pendanaan internasional disinyalir memang telah menawar-nawarkan dana untuk pembelian teknologi bersih lingkungan itu ke sejumlah Negara berkembang.

Unjuk Rasa

Puluhan aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia dan Friends of the Earth International menggelar unjuk rasa di halaman dalam The Westin, tempat diselenggarakannya Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim, di Nusa Dua, Bali,(KOMPAS 5/12) pagi. Mereka menyuarakan isu keadilan iklim yang dilupakan di meja perundingan resmi.

“Kami minta para juru runding bertanggung jawab terhadap rakyat di Negara-negara miskin yang rentan terhadap perubahan iklim. Keadilan iklim harus jadi agenda serius dalam siding,” kata Farah Sfa dari Friends of the Earth International (FoEI).

“Jangan biarkan perundingan ini dibajak para pedagang karbon yang melihat perubahan iklim sebagai komoditas baru,” kata Chalid Muhammad dari Walhi.

Kepada delegasi Indonesia, Farah Sofa menitipkan pesan agar hati-hati dalam membuat skema penurunan emisi melalui pencegahan deforestasi dan degradasi hutan (reducing emission from deforestation and degradation/ REDD). Skema REDD merupakan salah satu agenda setelah 2012 (Post-Kyoto Protocol), yang diusulkan Indonesia dalam konferensi di Bali. “REDD berpotensi manimbulkan konflik-konflik baru jika posisi masyarakat local tidak mendapat perhatian serius,” kata dia. Apalagi, sejarah pengelolaan hutan di Indonesia dinilai sarat dengan konflik antara masyarakat sekitar hutan dengan pengusaha HPH dan perkebunan besar yang sering didukung Negara.

Sasaran Capai Titik Terang

Empat bidang sasaran delegasi RI yang ingin dicapai dalam Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim di Bali, memasuki hari keenam, sudah menemui titik terang.(KOMPAS 8/12). Keempat sasaran itu meliputi kejelasan mekanisme dana adaptasi, transfer teknologi, pengurangan emisi melalui pencegahan deforestasi, dan kelangsungan pasca-Protokol Kyoto.

Berdasarkan informasi yang dihimpun KOMPAS, satu di antara keempat sasaran itu memang belum dapat diputuskan. Namun, pembahasan semuanya masih sejalan dengan yang diperjuangkan Indonesia bersama Negara-negara berkembang yang tergabung di dalam kelompok G-77. perkembangan pembahasan keempat sasaran itu meliputi, pertama, kejelasan mekanisme dana adaptasi yang memiliki sumber dana sebesar dua persen dari pembelian emisi oleh Negara-negara maju. Berdasarkan Protokol Kyoto, Negara-negara maju diwajibkan menurunkan emisi sebesar rata-rata lima persen dari nilai emisi tahun 1990.

“Dana adaptasi itu sudah mengarah untuk disepakati pengelolanya melalui pembentukkan lembaga baru. Sudah ada tiga alternatif sekretariat yang diusulkan, meliputi menyatu dengan sekretariat UNFCCC (United Nations Framework convention on Climate Change), melalui global environment Facility (GEF), atau melalui institusi baru,” kata delegasi RI, Masnellyarti Hilman.

Kemudian mengenai sasaran kedua, substansi kesepakatan yang sudah diraih di dalam Konfernsi antara lain disepakatinya pembahasan transfer teknologi Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA) ke Subsidiary Body for Implementation (SBI). Ketua Delegasi RI Emil Salim menyebutkan, pembahasan transfer teknologi sudah beralih dari tingkat wacana di SBSTA ke perwujudan implementasinya di SBI.

Sasaran ketiga, mengenai skema Reducing Emissions from Deforestation in Developing Countries (istilah resmi yang dipakai UNFCCC), yang kemudian dipertegas Indonesia sebagai Reducing Emission from Deforestation and Degradation (REDD). Di dalam pembahasan yang sudah berlangsung disepakati agar ada penetapan percontohannya (pilot project). Kemudian SBSTA diminta untuk menyelesaikan persoalan metodologinya dan SBI membahas persoalan insentif positif.

Sasaran keempat mengenai program pasca-Protokol Kyoto pada implementasi tahap pertama antara 2008-2012. pada Konferensi itu nantinya akan disepakati Bali Road Map. Berdasarkan keputusan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada September 2007, Negara-negara maju harus meningkatkan penurunan emisi dari lima persen menjadi 25-40 persen dari nilai emisi pada 1990. “Program ini dikenal sebagai deeper cut, yang diharapkan bisa dipenuhi pasca-Protokol Kyoto setelah 2012 nanti,” kata Masnellyarti.

Global warming telah menjadi isu yang menyita perhatian manusia sejagat. Dalam definisi sederhana, global warming adalah kondisi naiknya suhu permukaan Bumi yang disebabkan peningkatan jumlah karbon dioksida dan gas-gas lain, atau gas rumah kaca yang menyelimuti Bumi dan memerangkap panas.

Tags: , ,

One Response to “Perubahan Iklim”

  1. putree Says:

    no comment!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: