Menjelang 2009, Ayo Partai Ramai-Ramai Belajar Strategi Politik

Oleh: Nofia Fitri, Alumni, Ilmu Politik Universitas Nasional 2002

Suatu hal yang lumrah, menjelang ajang pesta demokrasi terbesar kebangsaan digelar, orang ramai-ramai membuat partai. Dengan demikian sudah semestinya partai-partai tersebut memahami begaimana memanfaatkan pemilu raya menjadi arena menunjukkan taringnya sebagai pelaku politik. Bagi penulis bukan lagi tempatnya disini menceritakan tentang visi atau pun misi yang diemban sebuah partai dengan keterbentukkannya. Tulisan ini lebih akan menggambarkan bagaimana stategi perjuangan sebuah partai politik dalam memenangkan ajang perebutkan suara pemilih (konstituen) yang akan mengusung partai tersebut menjadi pemenang dalam sebuah pertarungan politik. Adalah strategi yang andal yang diperlukan Partai untuk dapat menjaring suara.

Telah biasa kita saksikan di Televisi, bagaimana figur yang berlatarbelakang partai tertentu memposekan dirinya dengan alih-alih pesan-pesan sosial yang seolah-olah disampaikan sebagai bentuk kependuliannya terhadap bangsa. Wilayah ini yang biasa dipahami sebagai salah satu bentuk komunikasi politik yang efektif untuk voter gather. Kemudian ketika dijalan-jalan terlihat wajah-wajah dalam spanduk, atau poster-poster besar terpampang di tembok-tembok bangunan yang sepatutnya bagunan tersebut bukanlah wadah untuk menjadi mediasi memperkenalkan diri. Awamnya kita biasa menyebut sebagai masa perkenalan, atau dalam sisi yang paling negatif biasa disebut ’curi start’. Kerap kita juga menemukan bentuk kampanye yang menjelekkan citra lawan, atau dalam bahasa akademisnya disebut ”Black Campaign”.

Wajah pemilu kita, bukan sesuatu yang berbeda dengan Pemilu di belahan dunia lainnya. Di Amerika sendiri bagaimana pertarungan Barrack Obama dengan versus-versusnya mengangkat isu rasial, agama, hingga latar belakang kehidupan yang kelam. Bagaimana pola kampanye yang dilakukan para calon, dari statemen kecil yang dikeluarkan dalam setiap even berinteraksi dengan rakyat, hingga mengeluarkan uang berjuta-juta untuk memasang reklame di televisi, radio, internet, atau sekedar memasang spanduk wajah di jalan.

Pemilu dan proses kampanye sebelumnya selalu akan memiliki bentuk sendiri bagi tiap negara, namun tetap dalam frame yang sebagaimana ideal, terlepas bagaimana implementasi, dan perang kepentingan didalam kebijakan sampai proses itu terjadi.

Menjelang Pemilu 2009, kancah politik Indonesia diramaikan dengan bermunculannya partai-partai baru. Tugas awal partai-partai ini adalah bagaimana mengekspose diri ke dalam publik, mendapat simpaty, hingga trust (kalau mungkin), sampai mengantongi suara dukungan. Sementara partai besar yang (paling tidak mengaku) berkemampuan mensolidkan sekian suara harus mampu mempertahankan dukungan tersebut.

Dalam konsepsi Scroeder, Partai-partai besar tersebut bergerak dalam wilayah defensif, suatu pola bagaimana mempertahankan suara pada basis wilayah tertentu. Sebut saja PKS yang pada tahun 2004 membuat putih Jakarta. Kerja keras PKS kali ini adalah bukan lagi berupaya mencari celah bagaimana membuat semakin putih Jakarta, melainkan bagaimana agar Jakarta bisa tetap putih. Sementara Partai-partai baru akan menyerang atau dikenal dengan ”offensif strategy” memperebutkan suara konstituen.

Dalam proses mendulang suara konstituen suatu partai diperlukan suatu Manajemen politik, yaitu semacam keterampilan perang. Kita semua mengetahui dengan pasti perbedaan antara proses demokrasi dan penumpahan darah ala militer. Namun, tidak harus bertingkah laku seolah-olah politik adalah suatu aktivitas yang tidak berbahaya bagi sebuah diskursus yang bersifat memperhatikan kepentingan bersama. Diantara manajemen politik yang biasa digunakan oleh Partai adalah sebagai berikut:

a. Bencmark poll
Jejak pendapat ‘benchmark’ (tolak ukur) sebuah jejak pendapat yang lengkap dan mendasar. Jejak pendapat tentang citra, tema, dan komposisi para pemilih sebelum mulainya kampanye. Benchmark Poll harus menjadi sebuah petunjuk dasar untuk kegiatan-kegiatan yang akan datang.

b. Cruise Control Strategy
Strategi mengontrol perjalanan, adalah sebuah strategi promosi yang standar. Strategi yang mengorganisasikan aksi-aksi pers, iklan, dan poster selama jangka waktu yang panjang. Strategi ini mengatur agar aksi-aksi tersebut akan tetap tampil seragam, baik dalam bentuk maupun intensitas. Strategi ini penting untuk menyeragamkan penampilan kandidat di muka umum. Penting juga untuk para politisi yang mau tetap menonjol.

c. Debate (strategi Debat)
Strategi Debat saat ini semakin popular untuk merencanakan perdebatan duel di televisi atau di podium antara calon partai tertinggi. Strategi debat merencanakan fase menjelang, selama dan sesudah acara perdebatan.

d. Fast Finish Strategy
Menyelesaikan strategi dengan cepat. Ini adalah sebuah strategi promosi yang standar. Kampanye dimulai dengan diam-diam dan lambat, lalu dipercepat beberapa hari sebelum hari pemilu. Strategi ini cocok untuk kandidat yang sudah terkenal dan sudah mendapat dukungan yang besar. Strategi ini tidak cocok untuk kandidat yang belum begitu terkenal atau tidak popular.

e. Grassroots
Bagian dari kampanye yang berusaha untuk memobilisasi basis politik sebesar mungkin untuk target tertentu. Instrument yang klasik adalah aksi pengumpulan tanda tangan, aksi surat atau kartu pos atau aksi telepon dan email. Aksi ini diharap akan mempengaruhi pendapat pakar politik dalam suatu kampanye.

f. Grasstops
Bagian dari kampanye yang berusaha untuk mengidentifikasi, mengajak, dan memobilisasi para Opinion Leader (pemimpin pendapat) dan fingsionaris di kelompok sasaran. Grasstops ini dianggap menjadi multiplikator.

g. Issues Management
Menemukan, menganalisa dan mengontrol tema-tema yang sedang dibahas di masyarakat umum atau yang akan dijadikan isyu bahasan di masyarakat umum.

h. Monitoring
Mengamati lapangan politik serta perkembangan dan program di tingkat daerah dan provinsi, nasional dan internasional secara sistematis, yang relevan untuk organisasi. Penyelidikan tentang lawan, evaluasi dan penilaian media dan radio juga menjadi bagian dari monitoring.

i. Polling
Jejak pendapat umum yang kuantitatif.

j. Panel survey
Jejak pendapat yang serial. Satu kelompok pemilih akan diobservasi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Selama observasi ini dilaksanakan beberapa jejak pendapat untuk menganalisa perbedaan suasana di dalam kelompok pemilih ini secara lebih mendalam.

k. Soundbite
‘Potongan suara’ yang menyampaikan pesan utama kepada umum secara singkat, orisinil dan dramatis. Statement ini biasanya hanya dua atau tiga kalimat dengan durasi maximal 15 detik. Baik untuk digunakan di televisi dan radio atau berita utama Koran.

l. Rapid Responses
Respon yang cepat. Serangan dari pihak lawan akan dibalas secara cepat dengan klarifikasi, penerangan atau dengan serangan balik (counter attack). Persyaratannya adalah penyelidikan tentang lawan yang terus-menerus.

m. Sprint-Strategy
‘Strategi cepat’ adalah sebuah strategi promosi yang standar. Kampanye ini dimulai dengan pembukaan yang semarak dan diakhiri dengan penutupan yang juga semarak. Strategi ini cocok untuk calon yang belum begitu terkenal. Jauh sebelum fase akhir menjelang pemilu, kampanye ini memperlihatkan kehadirannya di muka umum (melalui poster, iklan, dan aksi-aksi pers) selama satu sampai tiga minggu. Begitu pula satu sampai tiga minggu menjelang hari pemilu.

n. Targeting

Setelah mengidentifikasikan target pasar yang penting (disebut ‘segmentasi’). Targeting menentukan kelompok dan distrik-distrik sasaran. Komunikasi dan organisasi dalam kampanye akan dikonsentrasikan pada kelomok-kelompok dan distrik-distrik tersebut.

o. War Room
‘Ruang Perang’ adalah pusat kampanye. Biasanya pusat kampanye dilengkapi dengan beberapa televisi dan komputer dengan akses ke internet untuk mengobservasi dan mengevaluasi secara keseluruhan pemberitaan di media massa. Seluruh jaluran komunikasi berpusat di ‘war room’. Di tempat ini juga bisa diputuskan berbagai reaksi spontan dan cepat atas berbagai kejadian yang aktual.p. Negative Campaigning

Kampanye negatif adalah sebuah taktik yang menyerang lawan dengan menyebarkan informasi negatif tentang prilaku, latar belakang dan posisinya. Informasi ini disampaikan berulang-ulang. Bila informasi tersebut tidak bisa dibuktikan, kampanye negatif bisa cepat dicap ‘kampanye kotor’. Dalam sebuah kampanye negative, riset dan dokumentasi tentang lawan menjadi sangat penting.

Dalam konsepsi strategi, berkampanye adalah salah satu bentuk komunikasi efektif dalam voters gather, oleh suatu Partai Politik atau pasangan calon dalam suatu kancah pemilihan, yang ibaratnya sebagai sebuah kompetisi.

Menurut Scroeder, rencana kampanye harus mencakup dua belas hal, yaitu:
1. Meneliti dan menganalisa lawan politik dan perencanaan kampanyenya.
2. Penelitian jejak pendapat secara kuantitatif.
3. Aliansi politik
4. Promosi melalui media
5. Kampanye di jalan-jalan dan events
6. Humas melalui komunikasi informasi kepada media-media independent.
7. Kordinasi dan perencanaan waktu untuk kandidat.
8. Perencanaan keuangan
9. Fundraising
10. Administrasi dan Pembukuan.
11. Mobilisasi pada hari Pemilihan.
12. Perencanaan waktu

Diantara model strategi kampanye tersebut, biasa dilakukan suatu Partai menjelang pesta pemilu raya. Dari apa yang dapat penulis sampaikan, model-model strategi partai dalam konsepsi Scroeder, ataupun yang lain efektif untuk dipelajari, diperdalam, dan dipraktekkan parta-partai menjelang pemilu 2009. Khusus bagi partai-partai baru yang belum berpengalaman dalam mendulang suara konstituen, inilah saatnya untuk mulai belajar strategi politik agar eksistensi partainya yang dipertanyakan dapat dibuktikan.

Tags: , ,

7 Responses to “Menjelang 2009, Ayo Partai Ramai-Ramai Belajar Strategi Politik”

  1. yopie Says:

    Menurut saya sebanyak apapun partai politi tidak akan mempengaruhi keadaan bangsa dan negara selagi tidak punya niat yang kuat untuk benar benar memperjuangkan kehidupan berbangsa dan negara demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia Dalam bingkai pancasila dan uud,45.. serta benar benar bertekat untuk kemakmuran bangsa dan negara, saya sebagai pemuda indonesia sangat prihatin dengan kondisi bangsa dan negara pada saat ini dimana terjadi kemerosotan moral generasi muda padahal generasi muda adalah tulang punggung kemajuan suatu bangsa …melalui komentar saya ini mohon kiranya para pengurus partai politik untuk bersama sama perangi NARKOBA karna merupakan bahaya laten hancurnya bangsa dan negara , …

  2. yopie Says:

    saya tetap pilih mereka yang punya komitmen kuat terhadap generasi muda indonesia untuk berantas narkoba dan….semua yang terlibat didalamnya..

  3. yopie Says:

    mungkin PDIP atau demokrat gw pilih juga asalkan negara ini tetap makmur dan mengedepankan perbaikan moralitas generasi muda …

  4. yopie Says:

    pak SBY dan IBU MEGA dua tokoh yang saya kagumi untuk sama sama memperhatikan kehidupan bangsa dan negara…

  5. yopie Says:

    kalau harus memilih kedua tokoh tsb maka saya akan memilih ke 2nya karna mereka mempunyai jasa atas bansa dan negara indonesia oleh karna itu saya tetap mendukung kedua tokoh tsb ,,,,GOOD LUCK….

  6. Indonesianism Says:

    Bravo.. Tnyata “Strategi Politik” karya Schröder bisa di urai. Namun, disiplin ilmu manajemen politik di Indonesia belum berkembang. Dan penulis artikel ini mungkin akan menjadi Carl Rove-nya INDONESIA. Mungkin film “wage of dog” Justin Hoffman bisa jadi gambaran bagaimana seorang “political spin doctor” beraksi.

  7. Nofia Fitri Says:

    Offcourse ada bnyk eksplorasi utk strategi politik Scroeder…
    tpi yg diurai diatas hanya point…
    spkt gk bnyk memang yg tulis…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: