Sosialisme ala Desa Rumah Jamur

Oleh: Belati Putra, HI Universitas Nasional 2006 & Bowo – Sayap Imaji

Bagi yang pernah menjalani masa kanak-kanaknya pada era ‘80an, pasti tahu (atau setidaknya ‘pernah tahu’) tentang sebuah film kartun yang menceritakan kehidupan pedesaan yang komunalis dan pola hidup dengan simbiosa-mutual yang sangat-sangat kental dalam cerita pada tiap episodenya. Sekedar memberikan kata kunci pada awal tulisan ini kepada para pembaca, izinkan saya untuk sekedar berteriak, SMURF…!!!


Masih ingat dengan sekawanan makhluk mungil berwarna biru dengan topi ala chef yang dalam cerita tersebut dikisahkan menghuni sebuah desa antah berantah pedalaman Eropa dengan rumah-rumah jamurnya? Yang hidup rukun serta menjalankan fungsinya dengan baik dalam masyarakat, dan mengganti kata kerja dan kata sifat dengan identitas bangsa mereka yaitu ‘smurf’ ? Rekatkan memori yang mendalam untuk sekedar mengingatnya, karena sebelum kalian sadar dan ingat tentang makhluk-makhluk mungil tersebut, tulisan ini hanya akan terlihat omong kosong belaka.

Makhluk biru mungil yang berasal dari komik Belgia karangan Pierre Culliford, (yang populer dengan nama pena Peyo) ini sempat populer di Indonesia pada tahun 1980-an lewat sebuah stasiun televisi swasta yang menayangkan film kartunnya selama beberapa waktu ditambah lagi sebuah jaringan restoran multinasional yang mengadopsi mainan figurnya sebagai hadiah menu khusus yang diperuntukkan bagi anak-anak.

Saat ini, setelah puluhan tahun masa kejayaan Smurf di Indonesia berlalu, anak-anak yang dulu mengkonsumsi kisah di Desa Smurf itu beranjak dewasa dan melihat kebobrokan bangsa ini. Tidak seperti generasi sebelumnya yang terhegemoni politik scapegoating Orde Baru, mereka justru jauh lebih akseptif terhadap wacana-wacana gerakan berideologi kiri. Sebagai antitesa atas kegagalan ideologi yang dianut pemerintah despotik, sosok Karl Marx dan Che Guevara hadir bagai pahlawan di tengah mereka.

Bisa jadi, penerimaan kaum muda terhadap ideologi kiri tersebut terjadi karena sejak kecil mereka sudah mendapat gambaran ideal mengenai pola kehidupan masyarakat sosialis melalui komik Smurf tersebut.

Marx pun Bermain di Dalamnya.

Pola kehidupan yang terjadi di dalam cerita Smurf ini adalah apa yang disebut Marx sebagai sosialisme utopis, dimana pengelolaan komunal kolektif berada di bawah pimpinan seorang revolusioner tunggal bernana Papa Smurf.

Kondisi yang ideal menurut Marx pun digambarkan dalam cerita tersebut dengan para Smurf yang bekerja sesuai pilihan profesinya dan menjalankannya dengan suka cita, pun tanpa mengenal sistem mata uang yang memungkinkan bahwa sistem barter lah yang sangat pas bagi para Smurf tersebut (selain pengertian utamanya adalah semua hal tersebut adalah properti publik) untuk saling memenuhi kebutuhannya. Penolakan segala macam bentuk ide-ide pasar bebas dan menganggap kepentingan bersama lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi. Sebuah simbiosa-mutual yang Marx pun sangat-sangat bermimpi perihal keterwujudannya dalam dunia nyata.

Rivalitas Sejati dan Kanibalisme.

Seperti layaknya negara komunis di dunia ini, Desa Smurf pun tidak lepas dari bayang-bayang masalah. Di bagian hutan yang lain hidup Gargamel, seorang perjaka tua jahat yang hidup bersama kucingnya yang setia, Azrael. Gargamel dengan kemampuan sihirnya ingin melebur para Smurf yang dipercayainya sebagai bahan baku untuk membuat emas. Sementara Azrael hanya semata ingin merasakan kenikmatan daging para Smurf.

Dalam hal ini Gargamel dapat digambarkan sebagai negara-negara kapitalis yang melihat segalanya sebagai potensi komodifikasi. Kebetulan pula, sejarah menunjukkan emas adalah salah satu komoditas yang menjadi daya tarik penjelajahan kaum imperialis. Semua yang buruk tentang kapitalisme ada pada sosok Gargamel. Ia rakus, kejam, dan hanya mempedulikan kepuasan dirinya sendiri. Dia adalah contoh manusia yang lebih mengutamakan kepentingan individual di atas kepentingan masyarakat yang dihidupinya. Bukan kebetulan juga kalau ternyata ia adalah seorang perjaka tua yang tinggal dalam kastil di tengah hutan dengan hanya ditemani seekor kucing.

Secara metafor, ia ingin menghabisi sosialisme, sama seperti yang dilakukan negara barat terhadap Sovyet dan negara-negara satelitnya selama perang dingin. Kemudian sebagai seorang kapitalis sejati, ia berharap bisa menjadikan segalanya sebagai komoditas, termasuk makhluk hidup lain. Bahkan rencana kedua yang akan dilakukan Gargamel terhadap para Smurf adalah ia ingin mengubah mereka menjadi bongkahan emas secepatnya setelah ia berhasil menangkapnya. Sebagai seorang kapitalis, ia lebih mempedulikan kesejahteraan dirinya sendiri daripada kesetaraan dan keadilan. Sudah menjadi sifat alaminya untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak mungkin.

Kucing peliharaan Gargamel, Azrael, mewakili serikat pekerja disfungsional di negara-negara yang menganut sistem pasar bebas. Ia tidak pernah mengeluh karena memang ia tidak punya suara. Ia tidak bisa menegoisasikan gajinya, ia makan apa saja yang disuguhkan majikannya. Dan karena tubuhnya berukuran lebih kecil dan tidak lebih kuat dari Gargamel, maka ia juga mewakili kaum proletar, sementara Gargamel mewakili kaum borjuis. Azrael dieksploitasi dan ditindas. Ia mempertaruhkan nyawanya untuk melakukan pekerjaan berbahaya yang tidak bisa dilakukan majikannya dan tidak memiliki kapasitas intelektual untuk mempertanyakan masalah ini, sama seperti para pekerja yang menderita nasib buruk yang sama selama berabad-abad karena kurangnya pendidikan yang didapatkannya, dan ia tidak punya pilihan lain selain menghamba pada majikannya.

Status Quo dan Konflik Internal

Penampakan usaha untuk menunjukkan betapa idealnya kehidupan kolektif di bawah satu pimpinan ini digambarkan dengan jelas dalam salah satu serinya yang berjudul: Smurfuhrer, dimana konflik khas Marxian klasik antara pemerintah yang jahat dan menindas, saat pemimpin (dan kapitalis) yang rakus mengeksploitasi masyarakat untuk kepentingannya sendiri; dipertentangkan dengan politik egalitarian ideal yang telah di formulasikan oleh Marx, kesemuanya digambarkan dengan baik.

Di situ diceritakan Papa Smurf harus menempuh perjalanan panjang untuk mencari bahan ramuan ajaibnya. Sepeninggal Papa Smurf, para Smurf yang lain mengadakan pemilihan untuk memilih pengganti Papa Smurf, lalu terpilihlah satu Smurf sebagai pemimpin. Tapi ternyata ia menjadi otoriter dan menimbulkan gelombang pemberontakan dari para Smurf yang lain untuk menggulingkan kekuasaannya.

Hasilnya? Desa Smurf pun jadi rusak akibat insureksi yang di jalankan milisi pemberontak itu, dan desa yang utopis itu baru pulih kembali setelah Papa Smurf pulang di saat pertarungan sengit antara para Smurf sedang terjadi. Dalam hal ini, Papa Smurf, sebagaimana juga dengan Marx, telah mewakili bentuk Marxisme yang ideal dengan menampilkan gambaran ketergantungan masyarakat yang butuh sosok pahlawan pelopor (avant garde) revolusioner yang bisa dijadikan panutan dan pemimpin yang maha hebat.

Representasi Tokoh Nyata di Dalamnya

Secara visual pun ditemukan kemiripan antara karakter penghuni Desa Smurf dengan tokoh ideologis mazhab kiri di dunia nyata. Figur pemimpin desa, Papa Smurf, dengan jenggotnya yang lebat akan dengan mudah mengingatkan pada sosok Karl Marx. Pun tidak boleh dilupakan, Papa Smurf adalah satu-satunya penghuni Desa Smurf yang menggunakan pakaian bewarna merah, yang notabene adalah warna tradisional kaum sosialis.

Satu lagi karakter dalam Desa Smurf yang memiliki kemiripan tersebut adalah Smurf ber ‘Kacamata’. Kacamata bulat yang dikenakannya mengingatkan pada sosok Leon Trotsky (yang terkenal dengan pemikirannya tentang Revolusi Permanen), salah seorang pentolan partai Bolshevyk yang terjegal setelah Stalin mengambil alih tampuk kekuasaan. Dalam kisahnya digambarkan Smurf Kacamata sebagai seekor Smurf dengan kecerdasan yang hampir menyamai Papa Smurf. Namun sikapnya yang sok tau dan sombong membuatnya sering jadi bulan-bulanan dan bahan cemoohan para penghuni Desa Smurf lain, sama seperti nasib Trotsky yang kemudian mati terbunuh dengan alat pemecah es dalam pengasingannya di Meksiko.

Behind the words of ; S . M . U . R . F

Menurut pencipta aslinya komik ini berjudul Les Schtroumpfs yang berasal dari bahasa Prancis. Namun kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa sebagai Smurf. Apa arti kata “Smurf” itu? Menurut para fans (yang mungkin sebagian diantaranya adalah penganut teori konspirasi), mereka mempunyai dua dugaan tentang kalimat sesungguhnya yang tersembunyi di balik akronim SMURF ini. Yang pertama, nama S.M.U.R.F. adalah kependekan dari Socialist Men Under Red Father. Dan yang kedua, kepanjangan dari nama S.M.U.R.F. adalah Sovyet Militants Under Red Faction.

Sekurang-kurangnya, Peyo telah berhasil menggambarkan teori Marxisme dalam bentuk kisah dongeng yang alegoris. Jauh dari kesan gagal, komik Smurf pada akhirnya telah berhasil menyebarkan pesan dengan baik, dengan bias kehidupan nyata yang kita alami, jauh lebih baik daripada yang pernah literatur fantasi lainnya coba lakukan. Boleh saja sebagian besar ide dalam komik ini terinspirasi dari ide Marxisme utopis, karena walaupun ia tidak menggambarkan dunia secara nyata dan apa adanya dengan segala kompleksitas di dalamnya, kita masih bisa membayangkannya, tentunya dengan pemahaman akan apa yang dijewantahkan Marx melalui pemikiran-pemikirannya.

Dan hal tersebut cukup kiranya jika kenapa saat ini ide-ide egalitarian kiri lebih mudah diterima oleh kaum muda kritis yang coba memahami permasalahan bangsa ini. Dan alasan bahwa “karena sejak kecil mereka mengkonsumsi SMURF!” dapat dijadikan salah satu landasan untuk mengungkapkan mengenai faktor-faktor tersebut.

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: