Golongan Putih, Apakah Haram?

Oleh: Hanifah Mutya, HI Universitas Nasional 2007

Pemilu 2009 sudah di depan mata. Saatnya kembali bagi masyarakat Indonesia untuk memilih langsung pemimpinnya untuk masa yang akan datang. Apakah pemimpin tersebut akan membawa kesejahteraan atau malah semakin membawa keterpurukan, semuanya pilihan ada di tangan rakyat yang memilih.

Namun melihat calon-calon pemimpin yang akan maju pada pemilu 2009 nanti, besar kemungkinan akan semakin tinggi terjadi golput (golongan putih). Menilik dari hal itu, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengusulkan agar MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa haram bagi mereka yang golongan putih (golput). Usaha ini juga didukung oleh Bawaslu (Badan Pegawas Pemilu), yang menyatakan bahwa upaya ini dapat mensukseskan pemilu, karena masyarakat saat ini bersikap apatis terhadap pemilu yang akan datang.

Usulan ini terkesan berlebihan. Karena ini berarti, telah mencampuradukkan agama dengan politik. Agama mempunyai konteks-konteks tersendiri, yang tentunya berbeda dengan konteks- konteks dalam kepolitikan.

Persoalan politik tidak ada kaitannya dengan menjalankan ibadah agama tertentu. Dan lagi, dalam konstitusi secara legal dikatakan bahwa memilih adalah hak, bukan kewajiban. Selain itu dikhawatrikan pula dengan fatwa haram ini nantinya secara tidak langsung akan terjadi pengkotak-kotakkan agama yang satu dengan yang lainnya.

Golput atau tidak, itu adalah hak bagi pemilih. Sebenarnya dalam hal ini, golput tidak dapat dikatakan sebagai tidak memilih. Golput itu sendiri merupakan pilihan, yaitu memilih untuk tidak memilih.

Golput harus dilawan dengan kesadaran untuk memilih, bukan dengan fatwa-fatwa. Jika pemerintah ingin agar tingkat golput pada pemilu 2009 berkurang, maka calon- calon pemimpin itu lah yang harus membenahi diri, bukan dengan mengeluarkan fatwa yang pada akhirnya dapat menimbulkan kontroversi.

Lakukan sosialisasi pemilu, mantapkan kepada masyarakat bahwa memilih calon pemimpin berarti juga memilih kesejahteraan mereka di masa depan. Tunjukkan bahwa pemilu itu penting. Selain itu juga membenahi sistem demokrasi dan partai politik, karena apabila masyarakat percaya pada sistem demokrasi dan puas dengan parpol, maka rakyat pun pasti akan memilih tanpa perlu dikeluarkannya fatwa.

Juga perlu diketahui, fatwa haram tersebut nantinya malah akan melemahkan lembaga yang mengeluarkannya. Tidak perlu sampai mengeluarkan fatwa haram bagi mereka yang golput. Sekali lagi, di negara ini, memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jangan sampai demi memperjuangkan kepentingan politik, agama yang dijadikan dalih. Agama adalah agama, bukan politik. Jangan sampai kita kembali pada masa Yunani kuno ketika negara menjadi urusan agama sehingga setiap perkataan pemerintah menjadi mutlak. Memilih adalah hak asasi, dan tidak ada kaitannya dengan ibadah pada agama.

Tags: , , , , , ,

8 Responses to “Golongan Putih, Apakah Haram?”

  1. gonjes Says:

    jka MUI mengharamkan golput itu sama sja mngambil hak individu, seharusnya MUI beserta konco2nya meneliti apa yg membuat masyarakat menjadi apatis?.
    bukan membuat fatwa.

  2. muhamaze Says:

    politik memang ribet, ruwet… nggak ada kalah menang, yang ada kepentingan…

    salam

  3. dhina Says:

    sebenernya lembaga tertinggi indonesia tuh MUI ???!!!
    bisa mengeluarkan fatwa yg jelas2 melanggar kebebasan warga negara..
    kalo gt UU ganti aja jadi Fatwa

    MUI mengharamkan golput karena memilih pemimpin yg baik adalah kewajiban umat manusia.

    honestly,,, saya gak tau mana calon pemimpin yg baik,,,,
    jkalo saya golput,,,, masa saya dosa?!?!?!!?
    dosa karena golput?!?!?!?

    salah satu perwakilan MUi mengatakan bahwa “kalo gak tau mana yg baik maka pilih saja yg kenal…daripada golput..”

    HAAAAAHHHH??!?!?!?!??

  4. Mardani Says:

    Golput apakah haram? tergantung, kalau memang orang orang dan parpol yang harus dipilih dirasa gak ada yang bersih, jujur dan amanah ya gak haram, tapi kalau ada orang orang dan parpol yg punya kriteria diatas ya haram kalau golput,,,, tapi pertanyaannya masih ada gak saat ini orang n parpol yang punya kriteria diatas,,,,kan sekarang bukan zaman para Nabi?????

  5. Parlin Hutabarat Says:

    Prilaku golput ibarat fenomena gunung es. Seharusnya kita sebagai makhluk berakal dicari apa sih penyebab dari golput tsb. Secara pribadi menjawabnya dikarenakan input dan output dari pemilu tdk seperti yg diharapkan masyarakat. Dengan demikian hal tsblah yg merupakan pr bagi kita semua khususnya parpol yang notabenenya disebut sebagai aktor utama pemilu. Buatlah masyarakat Indonesia puas dg hasil pemilu sehingga golput dpt diminimalisir sedikit mungkin. So fatwa MUI bukanlah solusi menangani tingginya prilaku golput.

  6. Bobby Heykal Says:

    wah jawabannya si simpel kalo dihubung”in sama agama Islam… kalo menurut gue kenapa MUI bisa saja mengharamkan GolPut?
    kita liat aja dari awal.. kalo ngga salah mulanya jumlah partai 66, trus diverivikasi hingga menjadi 34 partai dan bertambah menjadi 44 partai

    kalo secara islam jumatan minimal 40 orang kan… krn dari 40 orang tsb paling ngga 1 orang dikabulin doanya(orang yg bener” baik)…
    sama dengan pemilu paling ngga dari 44 partai tsb orang” islam diwajibkan memilih mana yg terbaik…

    islam agama yg mengajarkan politik, jd kalau mui ikut”an ya wajar” ajah… asalkan jngn menentukan partainya alias tetep netral…
    kalo menurut gue si ngga papa diharamkan GolPut..

  7. rofiqhidayat Says:

    tulisannya bagus mutya, pengolahan kata2 mantab dan isunya akan hangat juga tuh menjelang pilpres…

  8. -sKy- Says:

    Golput jelas-jelas sebuah pilihan, bukan karena pilihan egois namun lebih karena tidak percaya kepada semua opsi yang ditawarkan dalam pemilu. Ketimbang merasa bersalah jika orang yang dipilihnya nanti banyak menyengsarakan rakyat, lebih baik menjadi golput. Tapi tetap perlu disadari bahwa tidak selamanya Golput akan menjadi Golput. Ketika calon pemimpin bisa meyakinkan dengan visi dan misi yang jelas, lengkap dengan step-step teknis yang diperlukan dan logis bisa dilakukan, maka golput pun akan otomatis berubah menjadi pemilih yang aktif. Golput menunggu seorang pemimpin yang mampu membuat visi menjadi nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: