Berdemokrasi di Universitas Nasional

Oleh: Fritz Jojong, HI Universitas Nasional 2006

Universitas Nasional merupakan salah satu kampus tertua di Indonesia. Kampus yang lahir 1949 ini boleh dikatakan sebagai agen intelektual muda yang menjajikan bagi bertumbuh dan berkembangnya  pribadi yang cerdas dan bermoral, sehingga tidak heran bahwa setiap tahunnya kampus perjuangan ini selalu didatangi dan dikerumuni calon intelektual hampir dari semua wilayah di Indonesia.

Kalau Anda menyempatkan diri ke UNAS Anda pasti akan bisa melihat dan bertemu dengan orang jawa, Sumatra, Kalimantan, Ambon, Flores dll. Keberagaman itulah yang menempatkan UNAS sebagai Universitas Nasionalis dan plural.

Tentunya ini tidak terlepas dari kinerja dan produk yang telah dihasilkan UNAS. Sangat pantas dan wajar bahwa  masyarakat Indonesia memberikan apresiasi dengan mengutus tunas-tunas mudanya untuk berpatisipasi aktif atau ambil  bagian dalam karya intektual dan karya moral UNAS.      Tetapi masih ingatkah anda peristiwa UNAS berdarah di akhir Mei lalu yang sempat menggerkan bumi pertiwi ini? Atau masih ingatkah anda tentang MUSMA FISIP pada bulan November dengan terpilihnya Flavy dan Tua sebagai ketua senat dan wakil ketua senat periode 2008-2009.

Dua peristiwa yang menunjukkan kehidupan demokrasi sesungguhnya bahwa demokrasi ada di UNAS terlepas bahwa fenomena tersebut mendapat respon positif dan negative dari berbagai kalalngan tetapi sekali lagi penulis mengaskan bahwa demokrsi terjadi di UNAS.

Guru besar dari Universitas Vanderbilt, Chester E. Finn Jr, mengatakan dalam pidatonya di depan para pendidik di Nikaragua, “orang mungkin lahir disertai selera kebebasan pribadi, tetapi meraka tidak lahir disertai pengetahuan tentang tata sosial dan politik yang membuat kebebasan itu mungkin pada saatnya bagi mereka sendiri dan anak-anak mereka…hal-hal itu harus diperoleh…harus dipelajari”.

Pandangan Finn ini sebetulnya mau menegaskan kepada kita bahwa perlu wadah atau sarana yang bisa membentuk manusia demokaratis, yaitu melaui lembaga pendidikan. Lembaga inilah yang berperan aktif menanamkan nilai-nilai demokrasi melalui pendidikan demokratis sehingga  nilai-nilai mulia demokrasi dan kebebasan hakiki itu tidak disalahartikan dan tidak menjadi alasan kebenaran untuk mencapai kepentingan orang tetentu.

Lalu bagaimana dengan UNAS sudahkah Kampus Perjuangan ini menanamkan nilai-nilai demokrasi? Keyakinan saya mengatakan Belum. Meskipun transformasi pendidikan demokrasi melalui ilmu demokrasi  atau teori demokrasi  sudah dijabarkan para dosen dan telah berjalan semestinya serta peran UNAS yang begitu signifikan sebagai fasilitasi ekspresi bagi para mahasiswanya misalkan melalui UKM-UKM, himpunan jurusan, senat maupun BEM.

Belum lagi manusia UNAS yang begitu cerdas dan kreatif , membentuk wadah berekspresi untuk menyuarakan apa yang menjadi kebenaran umum dan menentang semua hal yang berhubungan dengan kejahatan baik kejahatan imaterial maupun kejahatan material. Sebut saja GMS, HAMAS, KSM, PMII,FRONTNAS, dll yang sudah memberikan kontribusi besar bagi berlansungnya proses demokrasi di UNAS.      Fenomena ini cukup memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk  menentang pemikiran konvensional dengan argumentasi yang akurat dan beralasan serta dapat dipertanggungjawabkan. Mungkin terjadi controversial tetapi itulah kehidupan berdemokrasi di UNAS.

Namun satu hal yang perlu ditata lagi di UNAS, yaitu komunikasi yang tidak seimbang baik itu komunikasi vertikal maupun komunikasi horizontal, ditambah lagi dengan ketertutupan dan minimnya partisipasi mahasiswa dalam menenetukan atau pun memilh siapa yang berhak dan pantas untuk menjadi yang nomor satu di UNAS.

Yang  menurut hemat penulis sangat menganggu dan mengancam fratenitas sebgai satu keluarga dan terciptanya kondisi  manusia terkunkung atau tidak bebas serta terciptanya kondisi intelektualitas yang juga sangat tidak memungkinkan untuk mengasilkan manusia modern yang bermoral dan berintelek.

Sekiranya itulah yang melatarbelakangi penulis untuk secara tegas mengatakan bahwa UNAS belum sepenuhnya menanamkan nilai-nilai demokrasi. Untuk itu  harapan penulis bahwa sasaran pendidikan demokratis harus diwujudkan dengan membangun relasi dan komunikasi yang akurat baik komunikasi vertikal dengan para birokrat UNAS serta jajrannya maupun horizontal di antara mahsiswa/I UNAS itu sendri karena kita manusia demokrasi yang seharusnya bisa lebih bersifat terbuka dan trasparan sehingga apa yang menjadi persoalan menjadi persolan bersama dan dapat diselesaikan bersama pula. Akhirnya  Bravo UNAS, salam perjunagan!

Tags: , , , ,

One Response to “Berdemokrasi di Universitas Nasional”

  1. kafka pizechust akhsa Says:

    Salam perjuangan…!!!, berkaitan dengan implementasi proses demokrasi di Unas, saya melihat terjadi penurunan yang sangat drastis,, nilai2 demokrasi tersebut tidak terlihat lagi. Ini disebabkan pihak yang semestinya memberikan kepada mahasiswanya malah bermain sendiri dalam aturan struktur yang dibuatnya (red:BIROKRAT). Bila kita sejenak membuka catatan demokrasi kemahasiswaan unas.. Seberapa jauh mereka (red: birokrat) melakukan keterbukaan pada mahasiswa!!!.. Dobrak birokrat. !!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: