Pengembangan Komunitas

Setelah tahun 1998 banyak orang mulai melakukan aksi sana-sini dan menggunakan banyak pendekatan, yang bahkan rancu secara konseptual, namun organisasi tersebut banyak yang berguguran ditengah jalan. Mereka tidak memiliki ideologi yang jelas terhadap apa yang akan dikerjakan, semenjak tahun enam puluh akhir, tidak banyak organisasi yang memiliki landasan ideologi yang jelas dan konsisten untuk diperjuangkan.

Nihilnya ideologi dalam gerakan mengakibatkan kacau balaunya nilai yang dianut komunitas akibat ketidak jelasan nilai baru yang ditawarkan, hal ini karena ada ketidakpahaman yang berangkutan terhadap apa yang disebut komunitas dan pengembangannya, komunitas menjadi lengkap jika komunitas memiliki soliditas tujuan, memiliki soliditas cita-cita dan setia memperjuangkannya, dibangun dengan pikrian dengan hati (komitmen) dan dengan tindakan.

Jumlah manusia yang hadir lebih banyak daripada jumlah pikiran yang bekerja dalam komunitas, inilah yang disebut perubahan pikiran yang kelak terjadi perubahan tindakan dan kebudayaan.

Perubahan Kebudayaan dan Kerja Komunitas

Kelompok mahasiswa saat ini salah satu aktivitasnya adalah pengembangan komunitas (community development), kondisi saat ini tidak lebih baik dari masa sebelum 1998 atau pada saat reformasi terjadi, di saat sektor rill jatuh, industri perbankan porak poranda, sehingga mengakibatkan ketidakpastian dan potensi kehilangan akses finansial bagi sektor rill sungguh mengancam kebanyakan pekerja di sektor tersebut. Rasionalisasi, rekstukturisasi yang ujung-ujungnya mengancam pemutusan hubungan kerja membuat beban masyarakat menjadi berat. Maka ide pengembangan komunitas menjadi sarat tantangan, kendala dan ancaman.

Banyak orang berpendapat bahwa sekolah tinggi adalah satu-satunya jalan keluar untuk survive di masa depan, namun pujian juga layak diberikan bagi mereka yang memilih, sekali lagi memilih dengan kesadaran untuk masuk dalam dunia yang secara gambling akan menjadi beban tambahan bagi mereka. Seperti refleksi yang diberikan oleh salah seorang budayawan saat krisis ekonomi yang terjadi sepuluh tahun lalu, Sindunata menyatakan krisis ini bisa menjadi berkah bukan lagi musibah.

Berkah atau musibah ditentukan oleh si pengambil keputusan tersebut. Berkah atau musibah ditentukan oleh seberapa kuat dan taksis dalam menerapkan strategi survival secara bersama, bukan lagi sendirian namun dengan pihak lain. Sebagai sebuah komunitas, mahasiswa (seharusnya) memiliki objektif lulus dengan waktu cepat dan nilai tinggi. Tidak ada inti sama sekali bagi mereka yang merelakan hidupnya untuk orang lain dalam pengembangan komunitas.

Setidaknya dengan kacamata zaman dimana modal dan uang berkuasa, pilihan hidup untuk pengembangan komunitas adalah tindakan kontraproduktif. Sekali lagi jika perbaikan masih menggunakan kacamata yang digunakan dan “laku” pada zaman ini, maka koreksi, perbaikan atas persoalan yang di deskripsikan diatas tidak pernah terjadi. Analogi atas hal ini adalah tidak mungkin seorang yang bermental KKN menjadi panglima pemberantasan KKN.

Dengan demikian Anda menawarkan solusi, sekali lagi Anda menawarkan alternatif jalan keluar melalui pengembangan komunitas. Bagi yang ingin terus melanjutkan aktivitas ini, pengembangan komunitas “bukan” sebagai tujuan. Tujuannya adalah koreksi, revisi terhadap perilaku dan pikiran yang salah, bukan fisik yang dijadikan masalah.

Pengembangan komunitas adalah praksis dalam perubahan kebudayaan. Maka, kalau kita tengok sejarah peradaban dan kebudayaan di manapun di dunia ini, revolusi selalu dipimpin oleh kaum muda. Republik ini tidak pernah ada jika Soekarno tidak pernah “diculik” oleh kaum muda yang beraliran kiri itu, kemerdekaan ada karena kaum muda.

Begitu besarnya arti pengembangan komunitas dalam perubahan kebudayaan, maka praksisi ini hendaklah tidak dilakukan dengan cara sembrono, ingat yang dipertaruhkan oleh komunitas yang kelak didamping sudah meletakan resiko kegagalan mencapai cita-cita ketika mereka bersedia didampingi. Maka agar terjadi kesetaraan, keberanian mereka harus dihargai dengan ungkapan tanggungjawab fasilitator dalam bentuk praksis, kecerobohan bertindak hanya mengakibatkan duplikasi kegagalan sepertiyang telah di deskripsikan diatas.

Mahasiswa sebagai Entitas Komunitas dalam Pengembangan Komunitas

Para mahasiswa itu adalah komunitas, karena mereka memiliki kesamaan latar belakang dan cita-cita yang sama. Mahasiswa hidup dalam setting tertentu yang mengarahkan mereka pada cita-cita yang sama. Di pihak lain komunitas yang dikembangkan mahasiswa adalah entitas yang lain, maka dalam konteks posisi ini istilah penembangan komunitas menjadi hal yang rancu. Tetapi pengembangan komunitas sangat berpotensi menjebak mahasiswa menjadi sebuah proses reproduksi kegagalan masa lalu. Peran mahasiswa terhadap komunitas diluar mahasiswa perlu dijelaskan secara bertanggungjawab, kepentingan dan peran mahasiswa terhadap komunitas akan menentukan sejauh mana campurtangan mahasiswa sebagai “fasilitator” perubahan sosial.

Pembicara dalam diskusi ini adalah Paulus Diartoko, pada hari Jumat, 6 Maret 2009

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: