Seputar Pemilihan Kabinet 2009: Banyak Drama Minim Substansi

Oleh: Didiet Budi Adiputro

(Ketua Umum KSM 2006 – 2008)

Minggu- minggu terakhir di bulan oktober sepertinya nuansa drama ala reality show menjadi suatu hal yang sering kita lihat. Memang di beberapa stasiun TV , reality show selalu mendapat tempat istimewa di prime time, tapi gejala ini juga melanda di setiap acara berita beberapa waktu belakangan. Loh? Apakah sekarang semua berita juga mengejar rating dengan menampilkan reality show? Jawabannya tentu tidak. Kali ini hadir reality show politik dengan pemain yang bukan lagi Anjasmara, Choky Sitohang atau Limbad. Tapi Presiden SBY dan segenap elit politik di negeri ini.

Hebatnya reality show bisa membuat penonton penasaran, berdebar-debar, penuh spekulasi, sedih bahkan kesal. Jadi emosi penonton dimainkan sedimikan rupa dengan bungkusan acaranya yang menegangkan.  Nah, ilustrasi ala reality show tampaknya dipraktekkan oleh para elit kita selama dua minggu terakhir. Masyarakat dibiarkan berspekulasi ketika bursa calon menteri beredar dan berganti-ganti terus setiap harinya di berita TV ataupun koran.

Hal ini tentu saja membuat orang yang namanya disebut-sebut juga ikut tegang harap-harap cemas. Efek dari berita ini dikabarkan beberapa calon menteri yang disebut melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak lazim di hari biasa. Ada yang mengadakan pengajian zikir dadakan selama beberapa hari terakhir, ada juga yang mengintensifkan lobi, sampai memanfaatkan opsi terakhir yaitu ke ’guru spiritual’. Entah benar atau tidak, tapi media jugalah yang menyebarkan berita ini.

Drama berlanjut sampai akhirnya Presiden  membuka audisi ’Cikeas Idol’. Dimana Presiden SBY akan memanggil, mewawancara, serta melakukan fit and proper test bagi calon menteri. Nah, saat itulah spekulasi masyarakat mulai menurun karena satu demi satu calon menteri datang untuk bertemu Presiden dan Wakil Presiden terpilih, yang setelah itu kebanyakan dari mereka memberikan keterangan ke media.

Lalu timbul pertanyaan, kenapa Presiden perlu melakukan wawancara serta mengadakan tes untuk mengukur kemampuan si calon menteri? Apakah presiden tidak yakin dengan kapasitas si calon sebelum dipanggil ke Cikeas? Dalam sebuah perbincangan saya dengan salah satu tokoh senior yang pernah menjadi penasehat utama mantan Presiden RI, saya menanyakan hal ini. Menurut sang tokoh sebenarnya Presiden dengan kekuatan dan informasi yang dia punya seharusnya bisa langsung tahu mana menteri yang bagus tanpa harus melakukan tes wawancara terlebih dulu. ”Kalau Presiden SBY gaul dan nggak kuper dia tahu mana orang yang bagus mana yang jelek, tanpa harus wawancara. Mungkin saja Presiden kita ini minder dan kurang gaul”, katanya.

Gosip Lebih Seru ,Tapi Etika Dilanggar

Jadi ajang fit and proper test ala Cikeas ini saya anggap tak ubahnya seperti bagian dari reality show. Namun seperti halnya drama reality show yang banyak adegan bumbu tapi minim substansi, nampaknya juga terjadi dalam peristiwa politik belakangan ini. Bahkan ’Cikeas Idol’ sudah memakan korban yaitu Prof.Dr.dr. Nila Djuwita Moeloek. Istri mantan Menkes Prof.Farid A Moeloek yang dalam pengumuman kabinet oleh Presiden, ternyata namanya tidak masuk dalam jajaran pembantu presiden. Padahal Nila sudah mengikuti berbagai tes yang dilakukan mulai dari wawancara di Cikeas sampai tes kesehatan di RSPAD. Yang disesalkan dikemudian hari, Presiden SBY malah mengatakan alasan bahwa Nila gagal karena tidak lulus salah satu tes. Bayangkan saja bagaimana perasaan ahli mata ini mendengar alasan Presiden, apalagi karangan bunga dan ucapan selamat terlanjur silih berganti berdatangan. Drama ini telah  mamakan korban pertama yang dikhawatirkan akan menurunkan harga diri dan reputasi Guru Besar fakultas Kedokteran UI ini .

Pembahasan kabinet tidak jauh mendalam selain sedikit cibiran mengenai posisi Hatta Rajasa seorang politisi kepercayaan Presiden SBY yang duduk sebagai menko perekonomian, lalu Purnomo Yusgiantoro yang dijuluki menteri terlama era reformasi karena kembali duduk di posisi Menhan, juga kenyataan bahwa Presiden SBY lebih banyak mengakomodir orang partai dibanding kalangan profesional di kabinetnya. Selebihnya perdebatan lebih minim secara substansi.

Justru yang mencuat di permukaan adalah gosip seputar serangan terakhir mantan Menkes Siti Fadilah Supari sebelum dia lengser kepada penggantinya Dr.dr. Endang Rahayu Sedyaningsih. Tak ubahnya seperti pereraian selebritis , perang statementpun tak terelakan. Siti mencibir Endang yang dianggap kurang pantas jadi menkes karena baru berada di posisi eselon dua, selain itu berbagai tuduhan miring juga dilancarkan ahli jantung ini yang menuduh Endang pernah dihukum karena ketahuan ingin menjual virus H5N1 ke luar negeri. Endang juga dituduh sebagai antek AS karena pernah meneliti di laboratorium Namru 2 yang selama ini dihebohkan Siti fadilah.

Endang yang merasa dituduh macam-macam oleh Siti mencoba menyangkal tudingan tendensius itu dengan santai. Doktor public health dari Harvard itupun dibela oleh beberapa dokter senior antara lain mantan Ketua IDI Prof. Kartono Mohamad. Menurut Kartono, keterlibatan Endang hanya terbatas pada posisinya sebagai peneliti semata dan tidak pernah bekerja di Namru “Kami tahu benar mengenai bu Endang ini,” kata Kartono seperti dikutip di salah satu media online. Fadilah juga jangan lupa bahwa ketika dia diangkat menjadi Menkes justru pangkatnya baru berada di eselon empat, jauh di bawah posisi Endang sekarang.

Siti Fadilah memang dikenal sebagai menteri yang kerap kali melontarkan pernyataan kontroversial. Misalnya tuduhannya kepada Namru 2 sebagai agen mata – mata, dimana dia mengaku sebagai menkes tidak mengetahui apa bentuk kegiatan laboratorium kesehatan milik angkatan laut AS ini. Padahal menurut laporan resmi Kedubes AS, tiap triwulan sekali Namru selalu melaporkan hasil kegiatannya ke Menkes untuk ditandatangani. Semua kegiatan penelitian Namrupun harus seijin dari Litbangkes Depkes , serta melibatkan banyak peneliti dan mahasiswa Indonesia. Jadi bagaimana menkes tidak tahu kegiatan Namru, padahal dia selama ini menandatangani semua laporan kegiatan Namru. Mungkin ini jadi kebiasaan buruk dari tokoh kita yang suka bicara populis anti asing  tapi pernyataan yang keluar acap kali mengandung kebohongan publik.
Memang peristiwa akhir-akhir ini banyak yang tidak sesuai ekspektasi kita, karena kabinet profesional yang diharapkan tidak sepenuhnya bisa teralisasi karena memang realitas politik berkata lain. Tapi kedepan rakyatlah yang dapat menilai, mana menteri yang banyak bekerja atau banyak bicara.

Seperti kata Imanuel Kant, bahwa manusia mampu memilih dan tumbuh. Dalam proses itulah berlangsung pembelajaran yang membuat seseorang menjadi dewasa dan matang.  Drama tetaplah drama, indah tapi tetap terlihat hampa. Mungkin inilah salah satu chapter dari pembalajaran bagi demokrasi kita untuk menjadi lebih ideal.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: